Kamis, 02 Februari 2023

Rakyat Jelata, Jelita Kala Pemilu

Puluhan tahun sejak bangsa ini merdeka, rakyat jelata selalu menjadi sasaran empuk para pembesar bangsa yang ingin melanggengkan kekuasaannya, ketika pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) diselenggarakan.

Setiap pemilu akan digelar, setahun sebelum tanggal mainnya, rakyat yang tadi hanya dilabeli predikat jelata, mendadak akan menjelma menjadi rakyat jelita yang begitu cantik mempesona bagi para politisi yang berebut tahta kekuasaan.

Tak pandang bulu, bahkan rakyat jelata yang sejatinya tinggal di pemukiman paling kumuh sekali pun akan tampak begitu jelita di mata para politisi yang umumnya berwatak busuk dan suka menebar janji-janji bohong itu. Ribuan kilogram sembako dan amplop berisi rupiah akan diantarkan secara teratur dan tersistem ke pintu-pintu rumah mereka. Rasa jijik akan lingkungan kumuh, di saat pemilu seketika bisa menghilang dari para politisi.

Mereka takkan segan-segan untuk berbaur dengan rakyat jelata nan jelita itu, demi mendapatkan simpati agar rakyat jelata nan jelita itu beramai-ramai mendukung dan memilihnya saat pemilu digelar.

Calon anggota legislatif, mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat, akan terlihat rajin dan aktif berbaur di tengah rakyat jelata nan jelita. Ditambah lagi para calon kepala daerah, baik bupati/walikota dan gubernur, juga takkan kalah aktifnya mempertontonkan drama kecintaan mereka kepada rakyat jelata nan jelita.

Janji ditebar, sumbangan materi (uang), sembako dan lain sebagainya akan mengalir deras, dikucurkan kepada rakyat jelata yang umumnya berpikiran awam, sehingga begitu mudah dibuai dengan pemberian bersifat temporer (sementara) yang umumnya berbentuk uang atau barang, tanpa memikirkan masa depannya. Pragmatis sekali, tapi itulah kenyataan rakyat jelata negeri ini.

Sikap pragmatis ini, semakin kuat mengakar di tengah rakyat. Selain karena rakyat memang sudah tidak mau pusing dengan semua janji-janji politisi, sebagian besar rakyat ternyata sudah memahami bahwa ketika pemilu akan digelar, itu adalah sebuah momentum untuk rakyat gantian membohongi para politisi yang telah membohongi mereka selama 5 tahun sebelumnya.

Ya, bagi sebagian besar rakyat jelata nan jelita, pemilu merupakan siklus lima tahunan untuk rakyat dan politisi saling bergantian untuk saling menipu pula.

Lima tahun pasca terpilih, para politisi akan  mengambil peran membohongi rakyat dengan tak memenuhi janji-janjinya saat kampanye. Dan saat pemilu digelar, rakyat jelata yang berganti mengambil peran untuk membohongi para politisi dengan menerima pemberian dari semua politisi, baik calon anggota legislatif maupun calon kepala daerah.

Anda punya uang, kami punya suara. Nomor Piro Wani Piro (NPWP).

Sesederhana dan sepragmatis itulah pemikiran rakyat jelata nan jelita negeri ini.


Ttd,

Ucok Majnun